Tanpa cemas, ini cara menangani mencirit pada anak

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

LANGSUNG. CO. ID –   Diare adalah buang air besar yang frekuesinya lebih sering serta konsistensi tinja lebih encer lantaran biasanya. Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat.  

Pada era yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya. Hal ini tak jarang dapat menyebabkan dehidrasi bagi penderita diare. Bayi & anak yang lebih kecil bertambah mudah mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa.

Sebab karena itu, mencegah atau menyalahi dehidrasi merupakan hal penting dalam  penanganan diare pada anak. Langsung, bagaimana cara menangani diare pada anak?  

Baca Juga: Tak hanya vaksin corona, orang dewasa pula butuh empat jenis vaksin ini

Cara menangani murus pada anak

Dirangkum daripada laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat anak menjalani diare bisa diberikan Cairan Rehidrasi Oral (CRO) atau yang dikenal dengan nama ORALIT. ORALIT merupakan cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi zaman diare.

Jika anak tanpa dehidrasi maka bisa ASI diteruskan, tidak perlu membatasi atau mengganti sasaran, termasuk susu formula. Dapat dikasih CRO 5-10 ml setiap lempar air besar cair.

Sementara kalau anak menderita dehidrasi, maka tersedia beberapa hal yang harus diperhatikan yakni mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi, mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, dan pemberian cairan rumatan.

Mengucapkan Juga: ​Catat, inilah kebutuhan cairan per hari di anak sesuai usianya

Ciri-ciri pada anak dengan mengalami dehidrasi ringan-sedang antara asing anak terlihat haus dan lempar air kecil mulai berkurang. Lengah terlihat agak cekung, kekenyalan indra peraba menurun, dan bibir kering.    

Pada keadaan ini, bujang harus diberikan cairan rehidrasi dalam bawah pengawsan tenaga medis, jadi anak perlu di bawah ke rumah sakit.   CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam. Setelah makbul rehidrasi, anak segera diberi sajian dan minum, ASI diteruskan.  

Teh sebaiknya tidak digunakan jadi cairan rehidrasi karena juga menyimpan kadar Na yang rendah. Sasaran tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Pemberian terapi CRO cukup dilaksanakan di ruang observasi di UGD ataupun Ruang Rawat Sehari.

Muntah bukan larangan untuk pemberian CRO. CRO harus diberikan secara perlahan-lahan dan konstan untuk mengurangi muntah. Posisi anak harus sesering mungkin direevaluasi

Sementara pada anak yang menderita dehidrasi berat muncul gejala bernapas yang cepat dan dalam, benar lemas, kesadaran menurun, denyut aorta cepat, dan kekenayalan kulit benar menurun. Anak harus dibawa lekas ke Rumah Sakit untuk mendapat cairan rehidrasi melalui infus.

 

<! —

gong2deng –>

Editor: Virdita Ratriani

. bg-color-linkedin background-color: #0072b1;