Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

LANGSUNG. CO. ID – JAKARTA.   Letak strategis Indonesia yang berada dalam garis khatulistiwa serta 3 lempeng menjadi faktor kausa seringnya terjadi bencana tempat. Dampak bencana yang tak kalah penting, tapi seringkali luput dari perhatian merupakan gangguan kejiwaan (psikologis) dalam anak atau biasa disebut trauma.

Berbeda dengan biaya kerusakan secara sosial atau ekonomi yang dapat dihitung.   Dampak psikologis pada anak pasca petaka tidak dapat diprediksi waktu, durasi serta intensitasnya.

Gejala pukulan yang muncul juga berbeda-beda. Sehingga tidak dapat dipadankan antara satu anak secara anak lainnya. Beberapa tiruan trauma pada anak pasca bencana adalah gangguan kebingungan, mudah panik, stres genting sampai depresi. Gejala-gejala tersebut apabila diabaikan tentunya mau berpengaruh buruk terhadap kelanjutan anak baik fisik maupun mentalnya.

Maka, Cetta Satkaara bersama Rumah Guru BK (RGBK)  mencetuskan rencana edukasi trauma healing pasca bencana. Co Founder & Senior Advisor PT Cetta Satkaara, Ruth Andriani mengutarakan, rentetan bencana yang berlaku di tanah air akhirnya ini membawa keprihatinan serta menggugah rasa kemanusiaan untuk ikut menolong. Namun sayang, bantuan di ranah psikologi  masih sering terlupakan,  

Padahal banyak target yang masih menyisahkan pukulan psikis berkepanjangan pasca gangguan. “Belum banyak yang memahami, ada luka emosional. Terutama pada anak yang sebanding sakitnya dan butuh menggubris lebih untuk ditangani, ” ujar Ruth, dalam rilis, ke Kontan. co. id, Jumat (23/4).  

Christina Dumaria Sirumapea,   Psikolog Klinis Dewasa serta Associate Assessor di TigaGenerasi menyampaikan, mengenai psychological first aid (PFA) bagi objek bencana. Perempuan yang familier disapa Ina ini membaca bahwa PFA dibagi menjadi empat landasan yakni prepare, look, listen dan link.

“PFA itu dukungan praktis layaknya kotak obat darurat yang bisa digunakan orang awam untuk membantu sementara dalam penanganan target pasca bencana agar lebih tenang dan aman. Namun untuk tahap lanjutannya langgeng harus ditangani oleh cakap yaitu psikolog atau tabib, ” ujar Ina.

Adapun empat landasan PFA. Prepare yakni pengamatan status kemanan, gejala serta sandaran yang dibutuhkan korban. Look adalah pendekatan sebagai pendengar aktif untuk membantu korban menenangkan diri. Listen,   menyerahkan akses layanan kesehatan.   Sementara Link dengan menghubungkan korban ke tenaga cakap sesuai kebutuhannya.

Ina mewanti-wanti,   jangan bertanya terlalu detail menerjang trauma yang dialami. “Justru akan mentriger ingatan target akan pengalaman bencana, ” imbuh Ina.  

 

<! —

gong2deng –>

Editor: Ahmad Febrian

. bg-color-linkedin background-color: #0072b1;