Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN. CO. ID – Indonesia memiliki potensi sumber daya di industri manufaktur, perikanan, pariwisata, & pertanian. Belum reda dampak perang dagang Amerika Serikat (AS0 berantakan China di akhir tahun 2019 pada industri manufaktur, pandemi virus Covid-19 semakin memperparah krisis yang dialami sektor industri unggulan tersebut. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan krisis ini berakhir.

Produk dari industri manufaktur, yang 60% terletak di wilayah Jawa Barat, kebanyakan diperuntukkan untuk memenuhi seruan pasar global. Bahan baku pun masih bergantung pasokan dari luar negeri alias impor. Akibat lantaran pandemi virus Covid-19 mengancam resesi, misalnya di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) yang 84% perekonomiannya berpegang pada industri manufaktur setempat.

Walau pandemi belum mereda namun industri manufaktur perlahan mulai bangkit. Ada industri yang kembali berproduksi normal, namun ada pula industri yang terkendala pasokan bahan baku dan rendahnya permintaan. Industri-industri dipaksa buat mencari solusi, contohnya pabrik garmen yang sementara waktu memproduksi keinginan medis sesuai permintaan pasar.

Dengan nasional, pemulihan industri tercermin sejak Purchasing Managers Index (PMI) yang naik ke tingkat 50, 8 pada bulan Agustus kemarin. Tersebut merupakan pencapaian tertinggi selama periode pandemi. Indikator kesehatan ekonomi daerah manufaktur didasarkan pada banyaknya pesanan baru, tingkat persediaan, hasil produksi, volume pengiriman, dan penyerapan gaya kerja. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimis bahwa industri manufaktur akan semakin membaik di kuartal ketiga tahun ini (Kontan, 02/09).

Industri wajib mematuhi protokol kesehatan karena paling rentan menjadi klaster baru penularan virus Covid-19. Industri manufaktur perlu ditopang oleh daerah lainnya untuk mempercepat pemulihan. Nasibnya tergantung pada kebijakan dan partisipasi seluruh pemangku kepentingan. Bagaimana membentuk ketahanan industri untuk beradaptasi kepada perubahan paska masa pandemi?

Digitalisasi industri

Pabrik telah banyak berkembang pesat semenjak abad 17. Generasi mesin menguap menciptakan perubahan radikal terhadap sistem produksi di industri manufaktur. Selanjutnya di awal abad 19 tenaga listrik semakin menyempurnakannya. Teknologi jinjing berbasis otomasi yang muncul di tahun 1960-an mengubah cara kerja di industri manufaktur. Teknologi fakta di dekade ini semakin membangun industri manufaktur melalui pengolahan petunjuk dan informasi yang menunjang sistem produksi.

Bila merujuk pada watak revolusi industri 4. 0, status bisnis global memang akan bertukar dan semakin menantang. Istilah VUCA yang merupakan akronim dari  Volatile  (kelabilan),   Uncertain  (ketidakpastian),   Complexity  (kerumitan), dan  Ambiguity  (ketidakjelasan), mengingatkan industri untuk segera beradaptasi terhadap transformasi. Tantangan industri di masa aliran adalah dinamika lingkungan yang bertukar sangat cepat dan sulit buat diprediksi.

Penerapan teknologi digital diyakini akan menjadi solusi bagi ketahanan industri manufaktur. Protokol kesehatan membuktikan adanya batasan antara ruang maya dan ruang fisik, sehingga rencana Society 5. 0 yang dikembangkan Jepang sesuai dengan tatanan kehidupan di kenormalan baru.

Digitalisasi industri berfokus pada manusia melalui bentuk yang menghubungkan ruang maya dan ruang fisik dengan memanfaatkan  big data  untuk ditransformasikan menjadi kecerdasan buatan. Hal ini sejalan dengan program Making Indonesia 4. 0 yang mendorong penggunaan teknologi untuk menurunkan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas.

Kementrian Perindustrian (Kemperin) terus mengajak industri manufaktur untuk memanfaatkan peluang dari industri 4. 0 agar berdaya beradu. Peran industri manufaktur dalam kampung sangat penting bagi kemajuan suatu negara. Industri tidak lagi diukur dari seberapa besarnya aset dengan dimiliki tapi lebih pada kemampuannya memenuhi permintaan pasar. Peluang bagi industri untuk bertahan melalui pembaruan yang dikembangkannya.

Terpadu & terhubung

Banyak situasi yang perlu dilakukan pemerintah buat mendukung ketahanan industri manufaktur nasional menghadapi pandemi saat ini.

Pertama , penyaluran kredit usaha dan keringanan skema pembayaran mampu menjadi solusi bagi para pelaku industri. Pemerintah pusat dan daerah perlu untuk saling berkoordinasi demi kelancaran rantai pasok bahan pokok dan ketersediaan suku cadang hajat industri.

Kedua , membuat pola pikir Higher Order of Thinking Skills (HOTS) dengan berpendapat kritis, logis, dan sistematis. Temperamen inovatif harus dibiasakan dari rasio yang paling sederhana karena inovasi tidak dinilai berdasarkan kebaruannya namun besarnya manfaat yang diterima umum luas.

Ketiga , memfasilitasi industri kecil dan menengah (IKM) untuk menjadi pemasok bagi industri besar lainnya. Beberapa stimulus dengan diberikan pemerintah kepada industri semasa pandemi diharapkan dapat menghindarkan industri dari resesi. Praktik ini telah dijalankan oleh China saat pokok menata perekonomiannya dengan memberdayakan industri-industri kecil di dalam negerinya. Kreativitas dan kemandirian industri terbukti bisa mengantisipasi berbagai risiko.

Memang tak mudah untuk melalui masa pandemi ini. Kesulitan industri bukan cuma ancaman penyebaran virus Covid-19 akan tetapi juga pada keseluruhan sistem dalam industrinya. Mulai dari pasokan bahan baku yang sebagian besar masih tergantung dari negara lain hingga distribusi produk yang terhambat kelancarannya.

Namun ke depannya, kondisi saat ini diyakini menjadi pembelajaran berharga bagi setiap industri untuk bertambah gesit dan bersiap terhadap transformasi. Empat tahap revolusi industri tidak akan menggoyahkan industri manufaktur nasional bertahan menghadapi badai.

Penulis: Elkana Timotius

Dosen Teknik Industri Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta


–> Video Pilihan gong9deng –>
Indeks manufaktur

gong9deng –>