Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

LANGSUNG. CO. ID –  JAKARTA. Japan Credit Rating Agency (JCR) mempertahankan peringkat utang Indonesia atau sovereign credit rating pada level BBB+ secara outlook stabil ( investment grade ).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira tahu dengan peringkat BBB+ tersebut, itu tak mengubah tingkat bunga utang SBN Indonesia.

“Diperkirakan implikasi ke bunga utang SBN tetap mau tinggi, ” ujar Bhima kepada Kontan. co. id, beberapa periode lalu.

Bhima menjelaskan, pada tarikh 2021, pemerintah menganggarkan Rp 373, 3 triliun untuk pembayaran kembang utang atau setara 19% dibanding beban belanja pemerintah pusat.

Baca Juga: Peringkat utang Indonesia tetap BBB+ versi Japan Credit Rating, tersebut penyebabnya

Bhima bilang, dengan rating yang tetap, bisa jadi alokasi belanja bunga utang tidak akan cukup. Makin, situasinya di pasar keuangan bukan hanya Indonesia yang butuh pembiayaan baru.

“Tapi negara lain selalu butuh. Khususnya, untuk pembiayaan vaksinasi Covid-19. Era bunga tinggi tentu bertahan hingga tahun depan, ” tegasnya.

Bhima lalu khawatir, jika beban bunga utang terus meningkat, maka pos anggaran lain bisa saja dikorbankan. Kemungkinan terburuk, biaya perlindungan sosial.

“Nah, ini dengan justru akan menghambat pemulihan ekonomi atau dikatakan sebagai debt overhang, ” tandasnya.

SEDEKAH, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Kamu akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas & bermanfaat.

Sebagai pepatah terimakasih atas perhatian Anda, ada voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

. bg-color-linkedin background-color: #0072b1; /*artikel selanjutnya popup */. article__flex position: fixed;bottom: 60px;z-index: 9;display: -ms-flexbox;display: flex; background: #fff;box-shadow: 0 0 6px rgba(0,0,0,.2);flex-wrap: nowrap; border-radius: 5px;overflow: hidden;height: 70px;. article__box flex-grow: 1;position: relative; width: calc(100% – 70px);padding: 15px 15px 0 10px;display: -ms-flexbox; display: flex;flex-wrap: wrap;align-items: center;align-content: center;. article__img img. imej width: 90px !important; height: 70px !important; object-fit: cover; . article__subtitle position: absolute;top: 10px;left: 10px;display: block; width: calc(100% – 80px);overflow: hidden;font-size: 10px;line-height: 1;color: #2a2a2a;. article__title a. article__link display: block; font-family: Roboto,sans-serif; line-height: 1.3; color: black; letter-spacing: 0px;. article__title a: hover color: #f38d21;. article__title display: block;font-size: 14px;font-weight: 700;color: #000; height: auto;max-height: 37px;overflow: hidden;. showHide display:none; @media only screen and (min-width: 800px) .article__flexbottom: 99px; max-width: 607px; height: 85px; .article__subtitle font-size: 12px; .article__title display: block;font-size: 18px;max-height: none; .article__img img.imejwidth: 110px !important; height: 85px !important; margin-top: 0px; margin-bottom: 0px; /*END OF- artikel selanjutnya popup */

<! —

–> <! —

Video Pilihan gong11deng –>
<! —

MAKROEKONOMI

gong11deng –>